Desain Website yang Baik Bukan Cuma Soal Tampilan
Ketika membicarakan desain website yang baik, banyak orang langsung memikirkan warna yang menarik, animasi modern, foto berkualitas tinggi, atau layout yang terlihat premium.
Semua itu memang bagian dari web design.
Namun desain website yang baik bukan cuma
soal tampilan.
Untuk website bisnis, desain mempunyai
tugas yang jauh lebih besar: membantu pengunjung memahami bisnis, menemukan
informasi yang dibutuhkan, merasa percaya, dan mengetahui tindakan apa yang
harus dilakukan selanjutnya.
Website dapat terlihat sangat modern
tetapi gagal menghasilkan inquiry karena navigasinya membingungkan. Sebaliknya,
website dengan tampilan relatif sederhana bisa bekerja lebih efektif jika
informasinya jelas dan pengunjung dapat mencapai tujuan tanpa kesulitan.
Karena itu, ketika membuat website
bisnis, pertanyaannya bukan hanya:
“Apakah website ini terlihat bagus?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Apakah website ini mudah digunakan
dan membantu tujuan bisnis?”
Mari membahas dasar-dasarnya.
Apa Itu Desain
Website yang Baik?
Desain website yang baik adalah desain yang menggabungkan estetika,
fungsi, kemudahan penggunaan, hierarki informasi, performa, dan tujuan bisnis
dalam satu pengalaman yang konsisten.
Artinya, desain tidak berhenti pada pemilihan warna dan font.
Web designer juga perlu memikirkan bagaimana pengguna:
·
memahami isi halaman,
·
berpindah dari satu halaman ke
halaman lain,
·
menemukan produk atau layanan,
·
membaca informasi,
·
menggunakan website di
smartphone,
·
menemukan CTA,
·
mengisi formulir,
·
hingga akhirnya melakukan
konversi.
Prinsip ini juga sejalan dengan panduan SEO dari Moz yang
menempatkan usability, informasi yang langsung dan actionable, desain
profesional, serta kredibilitas sebagai karakteristik halaman berkualitas.
Dengan kata lain, desain website adalah tentang bagaimana sesuatu
bekerja sekaligus bagaimana sesuatu terlihat.
1. Mulai
Desain Website dari Tujuan, Bukan Warna
Sebelum menentukan warna, font, ilustrasi, atau animasi, tentukan
tujuan website.
Apa yang ingin dilakukan pengunjung?
Untuk website company profile, tujuannya mungkin membuat calon
pelanggan memahami bisnis dan menghubungi perusahaan.
Website jasa mungkin mempunyai target mendapatkan leads.
E-commerce ingin menghasilkan transaksi.
Website restoran mungkin mengarahkan pengguna ke reservasi atau
informasi lokasi.
Sementara website portfolio ingin menunjukkan kualitas pekerjaan dan
menghasilkan inquiry.
Tujuan tersebut memengaruhi keputusan desain.
Misalnya website jasa konsultasi membutuhkan halaman yang
menjelaskan expertise, layanan, bukti pekerjaan, dan CTA konsultasi.
Jika halaman justru dipenuhi animasi tetapi informasi layanan sulit
ditemukan, desain tersebut belum menyelesaikan masalah bisnis.
Desain seharusnya mendukung tujuan, bukan mengalahkannya.
2. Pahami Siapa
Pengguna Website
Desain website sebaiknya tidak hanya dibuat berdasarkan selera
pemilik bisnis.
Alasannya sederhana.
Pemilik bisnis belum tentu sama dengan pengguna website.
Misalnya pemilik perusahaan menyukai desain eksperimental dengan
navigasi tersembunyi dan animasi kompleks.
Namun target pelanggannya adalah perusahaan B2B yang datang untuk
mencari informasi layanan, pengalaman, portofolio, dan kontak.
Dalam kasus tersebut, kejelasan mungkin jauh lebih penting daripada
eksperimen visual.
Sebelum mendesain, tanyakan:
·
Siapa pengguna utama website?
·
Informasi apa yang mereka cari?
·
Perangkat apa yang kemungkinan
digunakan?
·
Apa yang membuat mereka
percaya?
·
Apa pertanyaan sebelum mereka
membeli?
·
Apa tindakan yang ingin mereka
lakukan?
Semakin memahami pengguna, semakin mudah menentukan desain yang
tepat.
3. Buat Hierarki
Visual yang Jelas
Ketika membuka halaman website, mata pengguna seharusnya dapat
membedakan informasi utama dan pendukung.
Inilah fungsi visual hierarchy.
Hierarki dapat dibentuk menggunakan:
·
ukuran teks,
·
ketebalan font,
·
whitespace,
·
posisi,
·
kontras,
·
warna,
·
ukuran elemen.
Judul utama biasanya lebih menonjol daripada paragraf.
CTA utama lebih terlihat dibanding link sekunder.
Informasi penting diberikan ruang lebih besar daripada detail
tambahan.
Bayangkan semua teks pada website memiliki ukuran, warna, dan
ketebalan yang sama.
Pengunjung akan kesulitan mengetahui dari mana harus mulai membaca.
Desain yang baik mengarahkan perhatian secara natural.
4. Jangan
Takut Menggunakan Whitespace
Whitespace adalah ruang kosong di antara elemen desain.
Ruang kosong bukan berarti area yang terbuang.
Justru whitespace membantu halaman terasa lebih teratur dan
memudahkan pengguna memisahkan satu kelompok informasi dari kelompok lainnya.
Kesalahan yang sering dilakukan pada website bisnis adalah mencoba
memasukkan terlalu banyak informasi ke satu layar.
Headline, gambar, lima tombol, nomor WhatsApp, promo, testimonial,
badge, banner, dan berbagai elemen lain bersaing mendapatkan perhatian.
Hasilnya justru tidak ada yang benar-benar menonjol.
Gunakan ruang untuk memberikan fokus.
Terkadang desain menjadi lebih efektif bukan karena Anda menambahkan
sesuatu, tetapi karena menghapus elemen yang tidak diperlukan.
5. Navigasi Harus
Mudah Dipahami
Navigasi merupakan salah satu bagian paling penting dalam desain
website.
Pengguna seharusnya tidak perlu menebak cara menemukan informasi.
Untuk website bisnis, menu seperti:
Home
Tentang Kami
Layanan
Portofolio
Blog
Kontak
sudah sangat mudah dipahami.
Anda tidak harus menggantinya dengan istilah kreatif yang justru
membingungkan.
Jika mempunyai banyak halaman, kelompokkan secara logis.
Misalnya:
Layanan
→ Web Design
→ Web Development
→ SEO
Struktur yang jelas membantu pengguna sekaligus mendukung organisasi
informasi website.
Knowledge base techinal SEO dasar juga menekankan pentingnya struktur dan navigasi
yang memudahkan pengguna serta mesin pencari menemukan halaman dan memahami
hubungan antarkonten.
6. Desain
Homepage Harus Menjawab Pertanyaan Utama
Homepage sering menjadi salah satu halaman pertama yang dilihat
calon pelanggan.
Dalam beberapa detik, pengunjung idealnya mulai memahami:
Siapa Anda?
Apa yang Anda tawarkan?
Untuk siapa layanan tersebut?
Mengapa mereka perlu mempertimbangkan Anda?
Apa yang harus dilakukan selanjutnya?
Karena itu, bagian hero jangan hanya berisi slogan kreatif yang
tidak menjelaskan apa pun.
Misalnya:
“Building Tomorrow, Today.”
Terdengar menarik, tetapi belum tentu menjelaskan bisnis.
Bandingkan dengan:
“Jasa Pembuatan Website untuk Bisnis yang Ingin Tampil Profesional
dan Mudah Ditemukan.”
Pengguna mendapatkan konteks lebih cepat.
Slogan kreatif tetap bisa digunakan, tetapi jangan mengorbankan
kejelasan.
7. Gunakan
Tipografi yang Nyaman Dibaca
Font memiliki pengaruh besar terhadap karakter visual website.
Namun font juga mempunyai fungsi utama: dibaca.
Untuk body text, prioritaskan keterbacaan.
Perhatikan:
·
ukuran font,
·
jarak antarbaris,
·
panjang baris,
·
kontras teks,
·
ketebalan font,
·
jarak antarparagraf.
Jangan menggunakan ukuran teks terlalu kecil hanya agar desain
terlihat minimalis.
Begitu pula dengan paragraf.
Konten web biasanya lebih nyaman dibaca ketika dipecah menjadi
paragraf pendek.
Knowledge base SEO Content Writing Guide merekomendasikan paragraf
singkat dan penggunaan heading serta list untuk memecah konten padat sehingga
lebih mudah dipindai pembaca.
Desain dan content writing harus bekerja bersama.
8. Pilih Warna
Berdasarkan Fungsi
Warna tidak hanya membentuk identitas visual.
Warna juga membantu memberikan sinyal.
Misalnya satu warna utama digunakan untuk tombol CTA.
Jika warna tersebut digunakan secara konsisten, pengguna mulai
memahami bahwa elemen dengan warna itu dapat diklik atau mempunyai prioritas.
Hindari terlalu banyak warna yang semuanya ingin menjadi pusat
perhatian.
Gunakan sistem sederhana:
·
warna utama,
·
warna pendukung,
·
warna netral,
·
warna status jika diperlukan.
Pastikan kontras antara teks dan background cukup jelas.
Teks abu-abu sangat muda pada background putih mungkin terlihat
elegan pada mockup, tetapi dapat menyulitkan pembaca.
Aksesibilitas dan keterbacaan lebih penting daripada mengejar
estetika tertentu.
9. Gunakan
Gambar yang Mendukung Pesan
Gambar seharusnya mempunyai fungsi.
Untuk website bisnis, gambar dapat digunakan untuk:
·
menunjukkan produk,
·
memperlihatkan hasil pekerjaan,
·
memperkenalkan tim,
·
menunjukkan proses,
·
memberikan konteks,
·
memperkuat identitas brand.
Jika memungkinkan, gunakan visual yang benar-benar berhubungan
dengan bisnis.
Untuk perusahaan konstruksi, foto proyek nyata biasanya memberikan
informasi lebih kuat daripada stock photo gedung generik.
Untuk studio desain, portfolio merupakan bukti kemampuan.
Untuk restoran, foto makanan asli membantu calon pelanggan memahami
produk.
Visual yang tepat bukan hanya dekorasi.
Visual dapat menjadi bagian dari komunikasi dan membangun
kepercayaan.
10. Desain Harus
Mobile-Friendly
Website yang ramah SEO tidak boleh dirancang hanya berdasarkan tampilan desktop.
Pengguna dapat membuka website melalui smartphone dengan layar jauh
lebih kecil.
Karena itu, desain responsif perlu dipikirkan sejak awal.
Pada mobile, periksa:
·
ukuran teks,
·
menu,
·
tombol,
·
formulir,
·
jarak antarelemen,
·
gambar,
·
tabel,
·
popup,
·
CTA.
Jangan hanya mengecilkan desain desktop.
Prioritas informasi mungkin perlu berubah.
Misalnya sebuah website restoran dapat menempatkan tombol reservasi
atau petunjuk lokasi lebih mudah dijangkau pada smartphone.
Sementara website jasa dapat memberikan akses cepat menuju formulir
atau WhatsApp.
Desain responsif bukan sekadar membuat halaman “muat” di layar
kecil.
Tujuannya adalah membuat website tetap mudah digunakan pada
konteks perangkat yang berbeda.
11. Website
yang Bagus Juga Harus Cepat
Desain visual dapat memengaruhi performa.
Video background beresolusi tinggi, gambar besar, font terlalu
banyak, animasi kompleks, dan script pihak ketiga dapat menambah beban halaman.
Karena itu, designer dan developer perlu bekerja bersama.
Beberapa praktik dasar antara lain:
·
mengompres gambar,
·
memilih ukuran gambar sesuai
kebutuhan,
·
membatasi penggunaan video
berat,
·
mengurangi script yang tidak
penting,
·
tidak memasang terlalu banyak
font,
·
mengevaluasi animasi yang tidak
memberikan fungsi.
Jangan membuat pengguna menunggu hanya demi efek visual yang
berlangsung beberapa detik.
Website yang terlihat premium tetapi lambat digunakan bukan
pengalaman premium.
12. CTA Harus Terlihat
Jelas
CTA atau call-to-action memberi tahu pengguna tindakan berikutnya.
Contohnya:
Hubungi Kami
Minta Penawaran
Jadwalkan Konsultasi
Lihat Portofolio
Beli Sekarang
Daftar
CTA harus menyesuaikan tujuan halaman.
Pada halaman layanan, CTA konsultasi mungkin paling relevan.
Pada halaman produk, CTA pembelian lebih sesuai.
Pada artikel edukasi, CTA dapat berupa membaca artikel terkait atau
melihat layanan.
Jangan menampilkan terlalu banyak CTA dengan prioritas sama.
Jika terdapat lima tombol dengan warna mencolok dan semuanya meminta
tindakan berbeda, pengguna justru dapat kebingungan.
Tentukan satu primary action dan gunakan secondary action jika
memang diperlukan.
13. Formulir
Jangan Dibuat Terlalu Rumit
Website jasa sering menggunakan formulir untuk mendapatkan leads.
Namun semakin banyak informasi yang diminta, semakin besar usaha
yang diperlukan pengguna.
Apakah Anda benar-benar membutuhkan 15 kolom sebelum seseorang boleh
bertanya mengenai layanan?
Untuk tahap awal, mungkin Anda hanya membutuhkan:
·
nama,
·
kontak,
·
perusahaan jika relevan,
·
kebutuhan,
·
pesan singkat.
Informasi tambahan dapat ditanyakan setelah komunikasi dimulai.
Tentu ada bisnis yang memang membutuhkan formulir panjang karena
proses kualifikasinya kompleks.
Namun prinsipnya tetap sama:
setiap field harus mempunyai alasan.
Jangan menambah kolom hanya karena template menyediakannya.
14. Bangun Trust
Melalui Desain
Sebelum menghubungi bisnis yang belum dikenal, calon pelanggan
mencari alasan untuk percaya.
Desain dapat membantu menyediakan sinyal tersebut.
Contohnya:
·
identitas perusahaan jelas,
·
alamat atau informasi kontak
tersedia,
·
portfolio nyata,
·
studi kasus,
·
testimonial yang autentik,
·
profil tim,
·
informasi layanan transparan,
·
kebijakan privasi,
·
HTTPS,
·
konsistensi branding.
Knowledge base Moz juga memasukkan kredibilitas dan legitimasi
sebagai bagian dari kualitas halaman yang baik.
Hindari elemen yang justru menurunkan kepercayaan seperti klaim
berlebihan, popup agresif, testimonial tanpa konteks, atau countdown yang terus
kembali ke waktu semula.
Desain yang meyakinkan tidak harus terlihat mewah.
Yang lebih penting adalah terlihat jelas, konsisten, dan dapat
dipercaya.
15. Perhatikan
Desain Halaman Layanan
Homepage bukan satu-satunya halaman penting.
Untuk website bisnis, halaman layanan sering menjadi halaman yang
menentukan apakah pengunjung berubah menjadi leads.
Halaman layanan idealnya membantu menjawab:
Apa layanan ini?
Masalah apa yang diselesaikan?
Siapa yang cocok menggunakan layanan?
Apa yang didapatkan?
Bagaimana prosesnya?
Apakah ada contoh hasil pekerjaan?
Apa langkah berikutnya?
Desain halaman harus membantu pembaca mengikuti urutan tersebut.
Jangan hanya menampilkan satu gambar besar dan satu paragraf pendek
jika calon pelanggan membutuhkan lebih banyak informasi sebelum membuat
keputusan.
16. Web
Design dan SEO Harus Saling Mendukung
Desain website juga dapat memengaruhi SEO secara tidak langsung
maupun melalui implementasi teknis.
Struktur navigasi memengaruhi bagaimana halaman ditemukan.
Hierarki heading membantu mengorganisasi konten.
Kecepatan memengaruhi pengalaman pengguna.
Mobile usability menentukan kenyamanan penggunaan.
Internal linking membantu pengguna dan crawler menemukan halaman
lain.
Knowledge base SEO Content Writing Guide juga merekomendasikan
struktur heading yang jelas, internal linking dengan anchor deskriptif, dan
penyajian konten yang mudah dibaca.
Karena itu, SEO sebaiknya dipertimbangkan ketika website didesain,
bukan baru ditambahkan setelah website selesai.
Designer, developer, SEO specialist, dan content writer idealnya
mempunyai tujuan yang sama.
17.
Konsistensi Lebih Penting daripada Membuat Setiap Halaman Unik
Website membutuhkan design system.
Tombol yang sama sebaiknya memiliki tampilan konsisten.
Heading mengikuti sistem ukuran tertentu.
Spacing mempunyai pola.
Form mempunyai gaya yang sama.
Warna mempunyai fungsi konsisten.
Hal ini membuat website lebih mudah dipelajari pengguna.
Jika setiap halaman memiliki desain yang benar-benar berbeda,
pengunjung harus memahami ulang cara menggunakan interface.
Konsistensi juga mempermudah pengembangan website ketika jumlah
halaman bertambah.
Tim tidak harus mendesain komponen dari nol setiap kali membuat
landing page baru.
18. Jangan
Mengikuti Tren Secara Buta
Tren web design selalu berubah.
Ada periode ketika gradient populer.
Kemudian glassmorphism.
Lalu desain minimal, brutalist, animasi 3D, scrolling eksperimental,
dan berbagai pendekatan lainnya.
Tidak ada masalah menggunakan tren jika sesuai dengan brand dan
pengguna.
Masalah muncul ketika tren dipakai hanya karena terlihat modern.
Sebelum menggunakan sebuah elemen, tanyakan:
Apakah membantu pengguna?
Apakah sesuai dengan brand?
Apakah memengaruhi kecepatan?
Apakah nyaman di mobile?
Apakah informasi menjadi lebih jelas atau justru lebih sulit?
Tren akan berubah.
Prinsip usability jauh lebih bertahan lama.
19. Uji Website
dengan Pengguna Nyata
Designer dan pemilik bisnis sudah terlalu familiar dengan website
mereka sendiri.
Karena itu, sesuatu yang terasa “jelas” bagi tim belum tentu jelas
bagi pengguna baru.
Coba minta seseorang yang belum pernah melihat website untuk
melakukan tugas sederhana:
“Cari harga layanan.”
“Cari nomor kontak.”
“Cari portfolio.”
“Coba kirim inquiry.”
“Jelaskan menurut Anda perusahaan ini menawarkan apa.”
Amati apakah mereka kesulitan.
Jangan langsung memberikan petunjuk.
Jika beberapa orang mengalami masalah yang sama, kemungkinan desain
perlu diperbaiki.
Feedback pengguna dapat memberikan insight yang tidak terlihat dari
mockup.
20. Gunakan
Data untuk Memperbaiki Desain
Website tidak selesai ketika tombol “publish” ditekan.
Setelah diluncurkan, Anda mulai mendapatkan data.
Perhatikan:
·
halaman yang banyak dikunjungi,
·
sumber traffic,
·
CTA yang digunakan,
·
formulir yang menghasilkan
leads,
·
conversion rate,
·
perangkat pengguna,
·
halaman yang berkontribusi
terhadap penjualan.
Anda juga dapat melakukan eksperimen pada elemen tertentu jika
traffic memadai.
Misalnya menguji copy CTA atau struktur landing page.
Jangan mengubah semuanya sekaligus karena Anda akan sulit mengetahui
perubahan mana yang memengaruhi hasil.
Web design yang baik berkembang berdasarkan kebutuhan pengguna dan
data, bukan hanya opini.
Checklist
Dasar Desain Website untuk Bisnis
Sebelum website diluncurkan, periksa beberapa hal berikut:
1.
Tujuan utama website sudah
jelas.
2.
Target pengguna sudah dipahami.
3.
Pengunjung dapat mengetahui
bisnis dalam beberapa detik.
4.
Navigasi mudah digunakan.
5.
Visual hierarchy jelas.
6.
Teks nyaman dibaca.
7.
Warna memiliki kontras yang
memadai.
8.
Gambar mendukung informasi.
9.
Website sudah diuji pada
mobile.
10. Halaman tidak terlalu berat.
11. CTA utama mudah ditemukan.
12. Formulir tidak meminta informasi berlebihan.
13. Informasi kontak tersedia.
14. Portfolio atau bukti pekerjaan mudah ditemukan jika relevan.
15. Halaman layanan menjelaskan penawaran dengan jelas.
16. Struktur heading teratur.
17. Internal link membantu navigasi.
18. Komponen desain konsisten.
19. Website sudah diuji oleh orang lain.
20. Analytics atau sistem pengukuran sudah disiapkan.
Tidak semua website harus mempunyai struktur dan visual yang sama.
Namun checklist tersebut dapat membantu memastikan desain tidak
hanya dinilai berdasarkan selera.
Kesalahan
Web Design yang Sering Terjadi pada Website Bisnis
Salah satu kesalahan paling umum adalah mendahulukan estetika
daripada fungsi.
Website terlihat mengesankan, tetapi pengunjung tidak memahami apa
yang dijual.
Kesalahan lainnya adalah menggunakan terlalu banyak animasi, membuat
navigasi terlalu kreatif, menggunakan teks kecil, CTA tidak jelas, dan
menampilkan terlalu banyak informasi dalam satu area.
Ada juga website yang sangat bagus di desktop tetapi berantakan di
smartphone.
Sebagian website mempunyai homepage yang diperhatikan secara detail,
tetapi halaman layanan dan kontak terasa seperti bagian dari template yang
berbeda.
Dan satu kesalahan yang sering terlewat: tidak pernah mengevaluasi
website setelah diluncurkan.
Desain seharusnya bukan keputusan satu kali.
Bisnis berubah.
Produk berkembang.
Perilaku pengguna berubah.
Konten bertambah.
Website perlu berkembang mengikuti kebutuhan tersebut.
FAQ Desain Website
Apa yang
dimaksud desain website yang baik?
Desain
website yang baik menggabungkan estetika dengan fungsi. Website harus menarik
secara visual sekaligus mudah digunakan, mudah dipahami, cepat, responsif, dan
mendukung tujuan pengguna maupun bisnis.
Apakah website
bisnis harus memiliki desain yang mewah?
Tidak.
Profesional tidak selalu berarti mewah. Website sederhana dengan informasi
jelas, navigasi baik, branding konsisten, dan pengalaman pengguna nyaman dapat
jauh lebih efektif.
Apa yang paling
penting dalam web design?
Tidak
ada satu elemen yang berdiri sendiri. Tujuan, pengguna, hierarki informasi,
navigasi, readability, mobile usability, performa, CTA, dan konsistensi perlu
bekerja bersama.
Apa bedanya UI dan UX
dalam website?
Secara
sederhana, UI berkaitan dengan interface yang digunakan pengguna, seperti
tombol, warna, tipografi, dan komponen visual. UX memiliki cakupan lebih luas
mengenai keseluruhan pengalaman pengguna ketika mencoba mencapai tujuan melalui
website.
Apakah desain
website berpengaruh terhadap SEO?
Desain
dan implementasinya dapat berhubungan dengan berbagai aspek SEO, termasuk
navigasi, struktur konten, mobile usability, performa, internal linking, dan
pengalaman pengguna. Karena itu, SEO sebaiknya dipertimbangkan sejak tahap
desain.
Apakah website
perlu didesain ulang secara rutin?
Tidak
ada jadwal wajib. Redesign lebih tepat dilakukan ketika website sudah tidak
mendukung kebutuhan bisnis atau pengguna, teknologinya bermasalah, branding
berubah, atau data menunjukkan pengalaman pengguna perlu diperbaiki.
Desain website yang baik bukan cuma soal tampilan.
Warna,
font, foto, ilustrasi, dan animasi memang penting untuk membangun karakter
visual. Namun website bisnis mempunyai pekerjaan yang lebih besar daripada
sekadar terlihat menarik.
Website
harus membantu pengunjung memahami bisnis.
Navigasinya
harus mudah digunakan.
Kontennya
harus nyaman dibaca.
CTA
harus jelas.
Website
harus bekerja dengan baik pada smartphone.
Performa
harus diperhatikan.
Informasi
harus membangun kepercayaan.
Dan
seluruh elemen tersebut perlu mendukung tujuan bisnis.
Karena
itu, ketika menilai sebuah desain, jangan hanya bertanya:
“Apakah
desain ini keren?”
Tambahkan
pertanyaan:
“Apakah
pengguna memahami halaman ini?”
“Apakah
mereka dapat menemukan informasi dengan mudah?”
“Apakah
mereka tahu harus melakukan apa selanjutnya?”
“Apakah
website membantu bisnis mencapai tujuannya?”
Desain
terbaik bukan selalu desain yang mempunyai animasi paling kompleks atau visual
paling eksperimental.
Untuk
website bisnis, desain terbaik adalah desain yang mampu menyatukan estetika,
usability, informasi, teknologi, dan tujuan bisnis menjadi pengalaman yang
sederhana bagi pengguna.
Jika
pengguna tidak perlu berpikir keras untuk menggunakan website, desain sudah
melakukan sebagian besar pekerjaannya dengan benar.




No comments:
Post a Comment